A Jar of Minds

Collecting thoughts in a container

Mahalnya Tinggal di Jakarta Dibayar oleh ‘Nyawa’

January 29, 2016 • Bahasa Indonesia, Self Reflection

Seseram itukah tinggal di Jakarta!? Tidak juga sih. Judulnya memang sengaja dibuat ekstrim. Tapi begitulah kesimpulan yang aku tarik dari tinggal di Jakarta selama delapan tahun ini.

Nyawa bicara soal kehidupan. Kehidupan manusia dibatasi oleh usia. Delapan tahun yang telah berlalu selama aku tinggal di Jakarta terasa seperti baru kemarin saja. Waktu terus berlalu dan usia pun bertambah. Setiap hari kita membayar waktu yang digunakan maupun tak digunakan dengan separuh dari hidup kita. Tak ada diskon, tak ada promo, tak ada masa tenggang, tak ada masa reses. Setiap hari dibayar dengan tarif yang sama, 24 jam. Masalahnya, apakah waktu itu terpakai untuk menghidupi hidup, atau berlalu begitu saja?

Masalah Transportasi

Semua orang tahu betapa parahnya transportasi di Jakarta. Sekalipun sudah ada banyak perbaikan transportasi sejak beberapa tahun terakhir ini, namun masalah yang bertumpuk berpuluh-puluh tahun lamanya tak akan bisa selesai dalam waktu singkat. Bersediakah kita untuk menanti era di mana transportasi Jakarta sudah bagus sambil menghabiskan empat lima jam di jalan setiap harinya? Itu pun kalau kita tidak menjadi bagian dari masalah kemacetan di Jakarta. Aku sih sejujurnya enggan.

Waktu yang Habis di Perjalanan

Suatu hari aku punya janji untuk mengikuti briefing di daerah Fatmawati pukul 10 pagi. Agar tak terlambat, aku harus berangkat paling lambat pukul 8.30, satu setengah jam sebelumnya. Kemudian perjalanan pulangnya kembali memakan waktu sekitar satu setengah jam. Pertemuannya hanya berlangsung 15 menit, tapi total perjalanannya 3 jam.

Di hari lain, aku punya kegiatan mengajar di Binus Kemanggisan pukul 11.20 hingga 15.00, kemudian dilanjutkan kursus bahasa Korea di KCC SCBD pukul 18.00. Ada jeda selama 3 jam di antara kedua kegiatan ini. Berapa banyak waktu yang dapat aku pakai untuk mengerjakan aktivitas lain, berapa banyak waktu di perjalanan, dan berapa banyak waktu luang sambil menunggu jam enam sore tiba?

Setidaknya antara pukul 3 hingga 4 sore masih bisa aku gunakan untuk aktivitas lain, selama tidak harus turun ke jalan. Pukul 4 aku harus sudah berangkat agar terhindar rush hour dan tiba sekira pukul 5 sore. Berangkat lewat dari itu dan aku baru tiba jam 6 lewat sedikit. Lewat sedikit sih, tapi tetap saja terlambat.

Dalam membuat rencana, antara kegiatan di satu tempat dengan tempat lain harus diberi jeda paling tidak dua jam agar tidak terlambat. Kurang atau lebih tergantung jarak kedua lokasi tersebut. Kalau ada yang mengajak makan siang atau makan malam bersama, berapa total jam yang harus diluangkan? Empat jam!

Bayangkan apabila kita pekerja dengan jam kerja 9-5, maka jam 7 sudah harus berangkat. Sepulang kerja kita diajak untuk makan bersama teman kantor. Tiba di restoran jam setengah 8 malam. Makan malam, ngobrol, dan sedikit jalan-jalan sampai pukul 9 malam. Tiba di rumah pukul 10 malam.

Distorsi Cara Pandang

Suatu hari kami punya janji untuk bertemu pada pukul 7 pagi. Salah satu pesertanya adalah seorang dari Australia yang belum lama di Jakarta. Dia berangkat jam setengah tujuh. Dan benar saja, baru tiba di lokasi tiga puluh menit lewat dari waktu yang dijanjikan. Mungkin kita berkata, “Yah, belum tahu dia jalanan Jakarta!” tapi waktu berjam-jam yang kita habiskan setiap hari di jalan, justru sebenarnya sudah tidak wajar.

Coba ukur berapa banyak waktu yang habis di jalan setiap harinya? Tiga jam? Empat jam? Lima jam? Mari kita bandingkan dengan aktivitas yang dapat aku lakukan dalam waktu selama itu.

Menulis blog: 2-3 jam

Ketika ada ide muncul, biasanya aku simpan dulu judulnya dalam draft (kalau sedang online) atau diingat-ingat untuk ditulis kemudian. Untuk tulisan ini misalnya, aku menghabiskan 3 jam merampungkan tulisan.

Jogging: 30 menit

Termasuk pakai sepatu, lari, dan istirahat seusai jogging.

Koding satu halaman web: 2-4 jam

Ketika dapat proyek, waktu selama itu cukup untuk menyelesaikan satu halaman web. Hati senang karena tumpukan pekerjaan berkurang, dapat uang pula!

Bersantai di bawah pohon rindang: 30 menit

Menghirup udara segar sambil menyeruput es teh manis (kalau kopi panas cuaca tak mendukung) duduk-duduk di taman Waduk Pluit atau hutan kota Srengseng untuk menghilangkan penat dan lelah karena stress oleh pekerjaan.

Merealisasikan hobi dan minat: 2 jam

Apa hobi yang dapat dengan leluasa dikerjakan di Jakarta selain belanja dan makan? Tidak banyak karena waktu yang terbatas dan perjalanan yang harus ditempuh. Padahal 2 jam cukup untuk ikut olahraga panahan, main bowling, memahat patung, memasak, belajar bahasa asing, main musik, menulis, dan mengerjakan hobi-hobi lainnya.

Dilema

Pembangunan yang tersentralisasi di Jakarta ini menimbulkan dilema. Di satu sisi aku ingin pergi dari Jakarta untuk bisa menggunakan kembali waktu yang terbuang sia-sia di jalan untuk melakukan hal-hal yang menambah nilai dalam hidup. Di sisi lain ada banyak kesempatan-kesempatan yang tidak bisa diperoleh semudah seperti di Jakarta.

Sungguh aku berharap pembangunan di Indonesia bisa merata ke seluruh daerah di Nusantara.

Jika pilihannya satu, mana yang lebih mendukung untuk mengembangkan diri: ketersediaan waktu yang efisien, atau ketersediaan peluang yang beragam?

Apabila tak ada di Indonesia, pilihan lain yang terlintas adalah tinggal di negeri lain yang memiliki sarana transportasi yang baik, juga menyediakan potensi untuk mengembangkan diri yang sama besar seperti di Jakarta atau lebih dari itu.