A Jar of Minds

Collecting thoughts in a container

Telepon yang Tak dalam Genggaman

November 30, 2015 • Bahasa Indonesia, Cerita Pendek, Fiction

Langit masih juga kelabu. Jalan-jalan, rumput dan pepohonan di seberang sana, sudah basah seluruhnya oleh air. Bahkan mulai nampak genangan-genangan. Pedagang batagor yang biasa menjajakan dagangannya paling lama dibandingkan dengan pedagang-pedagang di sebelahnya pun sudah selesai berbenah dan siap untuk pulang. Sudah satu jam berlalu sejak bel pulang sekolah berbunyi. Tapi aku masih saja duduk di tangga depan pintu masuk sekolah. Orang-orang yang tadi berkerumun menunggu jemputan, memakai jas hujan, atau mengeluarkan payung pun sudah tak lagi kelihatan. Tetapi langit tak menunjukkan tanda-tanda hujan akan segera berakhir.

Sekarang memang sudah bulan Januari, bulan di mana hujan turun selebat-lebatnya. Salahnya aku terburu-buru membereskan isi tas setelah begadang semalaman mengerjakan PR matematika. Kukira PR kemarin itu cuma perlu satu jam saja untuk mengerjakannya jadi aku kerjakan malam saja. ‘Kan hanya lima nomor gitu loh. Ternyata untuk jawab satu saja bisa habis sehalaman penuh. Belum lagi ada anak cucunya, a, b, c, d. Aku mesti sudah mengayuh sepedaku dari pukul enam pagi. Gara-gara kurang tidur dan buru-buru aku jadi lupa memasukkan jas hujan ke dalam tas.

Di sela-sela lamunanku, aku tersadar saat melihat sebongkah benda kotak berwarna putih di lantai. Itu kan iPhone keluaran terbaru yang aku ingin beli. Sudah bertahun-tahun aku meminta dibelikan iPhone untuk pengganti ponsel Android versi 2.2 jadulku tapi tidak juga diberi. Ibuku pernah menanyakan ingin hadiah apa kalau ulang tahun nanti. Lantang aku menjawab, “iPhone, Ma!” Tapi tidak pernah aku diberikan saat ulang tahun, saat kenaikan kelas pun tidak, padahal aku masuk lima besar. “HP yang sekarang juga masih bagus tuh, ngapain ganti?” begitu alasannya.

Aku perhatikan sekitarku, sudah tidak ada orang. Kalau ada yang punya, paling-paling sebentar lagi orang itu kembali untuk mengambilnya.

Anehnya, sudah setengah jam berlalu masih tidak ada juga yang kembali. Aku penasaran, ponsel siapa ini? Aku mengambilnya untuk mengecek, barangkali ada nama pemiliknya di situ. Aku membuka, melihat-lihat isi kotak pesannya, kosong. Daftar panggilan keluar dan masuknya, kosong. Daftar kontaknya, hanya berisi beberapa nama yang tidak aku kenal. Ada juga sih beberapa nama guru, tapi guru-guru itu tidak pernah mengajar di kelasku.

Aku memutar-mutar ponsel itu. Layarnya yang besar namun tetap enak digenggam. Jauh berbeda dibandingkan dengan ponsel jadulku yang hanya berukuran 3.2″. Resolusinya pun tinggi. Ini sudah full HD ya? Kalau lihat ponsel aku, dari ujung lapangan sekolah pun kelihatan kotak-kotak pikselnya. Duh, rasanya asik sekali ya kalau bisa punya HP bagus gini.

“Apa iseng aku coba masukkan kartu simku ke sini ya?”

Perlahan aku matikan ponsel itu. Aku lihat lubang kecil di sisi ponsel. Kalau tidak salah ini untuk mengeluarkan kartu sim. Aku tusukkan itu dengan ujung pensil mekanik. “Oh, terbuka! Hebatnya pensilku tidak patah mendorong sekuat itu,” pikirku. Aku tukar kartu sim dengan milikku. Walaupun tidak punya ponsel terbaru, tapi kartu simku pernah kupotong ke ukuran nano. Aku kan selalu mengikuti perkembangan ponsel terbaru, apalagi iPhone. Aku nyalakan ponsel itu.

Tak terasa jari-jemariku sudah asik menekan-tekan layar ponsel. menyenangkan sekali rasanya kalau punya ponsel bagus. Teman-teman pasti iri kalau melihat aku memegang ponsel canggih ini. Sejak tadi aku tak melihat satu orang pun datang kemari. Mungkin aku bisa pinjam dulu sehari sebelum aku berikan ini ke petugas piket sekolah. Aku bisa pamer dulu di depan si Melsa yang masih pakai keluaran lama. Dia selalu membangga-banggakan ponselnya itu. Tapi kini tidak lagi!

“Eh, kamu kok masih di sini?” aku terkejut oleh ujaran Clara sambil menepuk pundakku dari belakang.

“Hai Clara. Ekskulnya sudah kelar ya?” aku balas menyapa.

“Iya. Tapi kok kamu belum pulang? Kamu kan gak ikut ekskul hari ini.”

“Hujan deras sih. Dan aku lupa bawa jas hujan.”

“Oh begitu. Wah itu iPhone keluaran terbaru kan?” pandangan Clara teralihkan oleh ponsel putih yang aku pegang. “Punya kamu?”

“Yup. Pakai ini enak loh, gak lemot.”

“Keren ih! Tapi, kamu kapan ganti ponsel? Aku gak ingat.”

Terakhir kali aku mengeluarkan ponsel di depan Clara itu minggu lalu ketika kami pulang bersama. Waktu itu sepedaku bocor, jadi aku pergi ke sekolah naik angkutan umum. Ayah Clara menawarkan aku ikut menumpang mobilnya karena arah rumah mereka sejalan denganku. Kami tidak sekelas sekarang, tapi dua tahun lamanya kami pernah sekelas. Jadi aku kenal cukup baik dengannya. Kalau begitu aku jawab saja tiga hari yang lalu. Aku dibelikan untuk hadiah ulang tahun. Eh tunggu dulu, Clara kan tahu persis tanggal ulang tahunku. Apa kujawab ini hasil menabung saja ditambah uang pemberian yang aku dapat waktu lebaran lalu. Belum selesai aku memikirkan jawaban yang pas, Clara sudah bicara lagi. Kalau begitu aku tak perlu jawab saja.

“Tunggu dulu. Kalau tak salah Pak Kamto juga baru ganti HP beberapa hari yang lalu. Sama persis dengan yang kamu punya!”

Pak Kamto itu guru killer di sekolah kami. Beliau mengajar Fisika. Kalau ada yang lupa mengerjakan tugas darinya, siap-siap sajalah babak belur dimarahi habis-habisan. Bukan hanya dimarahi, kami juga akan disuruh menghadap guru BP. Bukan hanya itu saja. Kalau diluar kelas kami kedapatan berkelahi, atau di kelas nilai ulangan kami buruk, maka tidak segan-segan Pak Kamto meminta guru BP untuk menghubungi orang tua agar datang ke sekolah. Menyebalkan sekali.

Tunggu dulu, jangan-jangan ini ponsel milik Pak Kamto? Gawat deh! Aku harus bagaimana nih, kalau ketahuan aku memakai ponselnya, habislah sudah nasibku. Aku tidak pandai mengarang cerita. Kalau Clara menanyakan dari mana aku dapat ponsel ini saja aku sudah bingung, apalagi kalau Pak Kamto yang menanyakan mengapa aku memakai ponselnya. Aku harus jawab apa? Tiba-tiba Clara menepuk pundakku dari belakang.

“Eh, kamu kok masih di sini?” ujar Clara.

Aku terkejut dan segera tersadar dari lamunanku. Aku lihat ke lantai, ternyata ponsel putih itu masih ada di sana.

“Hai Clara. Iya nih, hujan deras dan aku lupa bawa jas hujan. Eh ya, itu HP siapa ya? Terjatuh di sana.” tanyaku.

“Punya Pak Kamto mungkin? Dia kan baru ganti HP yang seperti itu. Itu iPhone kan?”

“Iya kelihatannya iPhone. Entahlah punya siapa. Aku bawa ke petugas piket saja ya. Masih ada kan?”

“Mestinya sih. Tugas piket kan sampai jam tiga. Tadi yang bertugas Bu Melly.”

“Wah sekarang sudah tiga kurang lima belas. Kalau gitu ayo lekas bawa ke sana sebelum Bu Melly pulang.” tukasku.