A Jar of Minds

Tutorials, and other (non) techie stuff

Persiapan Hidup dalam Sebuah Ransel

November 23, 2015 • Bahasa Indonesia, Satu Ransel, Traveling

Perjalanan akhir tahun ini bisa jadi merupakan perjalanan pertamaku menjelajahi nusantara ala backpacker. Karena pola perjalanan yang berbeda serta kapasitas ransel yang juga lebih terbatas dibandingkan dengan perjalanan wisata menggunakan bagasi, maka persiapannya pun harus matang. Apalagi karena aku belum berpengalaman dalam bepergian ala backpacker.

Karena itu untuk perjalanan pertama aku memilih lokasi yang cukup bersahabat untuk pemula: Yogyakarta. Daerah yang sudah pernah aku kunjungi dua tiga kali sebelumnya. Selain itu, daerah ini juga masih merupakan wilayah Indonesia sehingga cuaca, bahasa dan budayanya pun masih tidak asing. Yogyakarta adalah perkotaan jadi kalau pun ada barang-barang yang tidak terbawa dalam ransel, aku masih bisa membeli di toko terdekat. Mudah-mudahan melalui perjalanan pertama ini aku mendapat pengalaman untuk berkemas pada perjalanan berikutnya yang lebih jauh, lebih lama, dan lebih menantang.

Dari blog-blog yang aku baca di Internet, banyak petualang berpengalaman yang bisa bepergian berbulan-bulan, bahkan tahunan, hanya dengan membawa satu buah ransel berukuran sedang. Salah satu kebiasaan (atau lebih tepatnya kesalahan) pelancong pemula adalah membawa barang bawaan terlalu banyak. Kedua, salah memilih tas mendaki yang tidak dirancang untuk pola hidup pelancong. Akibatnya perjalanan menjadi melelahkan karena barang bawaan yang terlalu banyak dan tidak terpakai, juga repotnya membongkar dan merapikan isi tas saat mengambil barang yang di simpan jauh di dalam.

Oleh karena itu perjalanan ini aku batasi hanya dengan membawa satu buah ransel saja. Menurut blog SnarkyNomad dia mampu berkelana selama sembilan bulan hanya dengan membawa ransel ukuran 20 liter. 20 liter itu kira-kira sebesar galon air. Ukuran yang masih aman untuk dibawa adalah 40-45 liter. Lebih dari itu kita akan kesulitan khususnya saat menggunakan pesawat terbang karena melebihi batasan barang bawaan kabin, sehingga harus disetorkan sebagai bagasi. Menggunakan bagasi berarti tambahan biaya ratusan ribu untuk sekali jalan. Belum lagi kekhawatiran tas sobek, waktu lebih untuk menyetor dan mengambil bagasi, dan sebagainya.

Meski masih pemula, aku mengambil tantanganĀ lightweight traveling dengan ransel 23 liter. Kalibre Predator 04. Setelah ditelusuri ternyata 23 liter memang lumayan kecil untuk bepergian. Tapi desain bukaan ransel yang penuh seperti koper, macam-macam kompartmen (bahkan ada gantungan selang air minumnya!), busa punggung serta tali yang bisa diatur, terasa nyaman saat mencoba digendong sambil membawa setumpuk buku yang tebal. Tujuan lokasi di daerah tropis harusnya tidak menjadi tantangan khusus karena tidak perlu berurusan dengan cuaca yang dingin. Apabila perjalanan seminggu dengan tas 23 liter ini berhasil, artinya aku bisa melewati beberapa masalah dalamĀ backpacking tanpa harus mengalaminya sendiri. Kalau tidak, artinya aku mesti cari ransel 40 liter untuk perjalanan berikutnya. Apapun dari ukuran ransel yang aku pilih, semua kebutuhan hidup harus muat dalam satu ransel. Hidup dalam sebuah ransel.

Kalibre Predator 04. Mampukah ransel ini menampung segala keperluan perjalanan? Atau, mampukah aku mencukupkan segala keperluan perjalanan dalam ransel ini?

Kalibre Predator 04. Mampukah ransel ini menampung segala keperluan perjalanan? Atau, mampukah aku mencukupkan segala keperluan perjalanan dalam ransel ini?

Apa saja yang harus disiapkan?

Rencana Perjalanan

Pertama-tama, rencana perjalanan (itinerary). Ke mana saja tempat yang akan dikunjungi. Tanggal berapa berangkat dan kembali. Aku ingat bahwa rencana aku berkelana dengan ransel ini sudah sejak beberapa tahun silam. Meski demikian hingga kini belum juga terealisasikan. Ada banyak alasan kalau memang ingin disebutkan. Tapi supaya tahun ini benar-benar terjadi, aku harus menentukan tanggal dan durasi perjalanan. Dan langsung saja beli tiket pergi dan pulang. Jadi tidak ada alasan untuk menunda-nunda lagi. Sehingga pilihannya hanya tinggal dua: pergi, atau tiket hangus.

Kalau rencananya sudah disiapkan, berikutnya adalah menyiapkan apa saja yang perlu dibawa, selain menyiapkan uang tentunya. Masih banyak hal tentunya yang mesti aku siapkan. Bahkan ranselnya pun masih belum ada. Dengan berbekal batasan 23 liter tadi, maka barang-barang yang dibawa harus memenuhi kriteria ini:

  • penting
  • pasti digunakan dan tidak bisa segera dibeli di lokasi jika diperlukan
  • ringan dan berukuran kecil saat dibungkus
  • multifungsi

Buku Panduan Wisata

Kemarin aku baru saja membeli buku panduan perjalanan Lonely Planets South East Asia. Aku pilih buku ini karena isinya yang cukup lengkap, serta rencana aku untuk menelusuri daerah Asia Tenggara karena kemudahan perjalanan tanpa perlu mendaftar visa. Buku ini memudahkan dalam menyusun rencana perjalanan, yang juga akan berguna saat di lokasi nanti, karena kita tidak pernah tahu apakah realisasi rencana kita akan 100% tepat atau adakah alternatif yang bisa diambil kalau rencananya meleset.

Buku ini cukup tebal. Dan setelah dipikir-pikir, akan cukup merepotkan dengan tambahan beban buku yang sebagian besar isinya tidak digunakan dalam perjalanan kali ini. Juga agak merepotkan ketika harus mengeluarkan dan memasukkan lagi buku ini di tengah jalan. Belum lagi tampang seperti turis saat sedang mengeluarkan buku panduan wisata sambil menggendong seisi rumah dalam tas di punggung. Oh setidaknya masalah tampang turis karena banyaknya bawaan sudah bisa terselesaikan dengan perjalanan minimalis dengan ransel bepergian ukuran sedang, bukan ransel pendaki yang tinggi menjulang.

Buku panduan wisata Lonely Planet pun direlakan menjadi potongan-potongan booklet.

Buku panduan wisata Lonely Planet pun direlakan menjadi potongan-potongan booklet.

Solusinya adalah dengan memecah buku menjadi beberapa buklet per bab. Tak tega rasanya ketika memotong dan melepas halaman-halaman buku, apalagi dengan kebiasaan aku memperlakukan buku dengan menyampulnya dan tidak mencoret-coret isinya. Plus harga buku 372.000 rupiah yang tidak terbilang murah tentunya. Namun dibandingkan dengan beban perjalanan dan biaya perjalanan, rasanya lebih baik merelakan buku ini tercabik-cabik menjadi beberapa jilid. Toh dalam beberapa tahun lagi buku ini pun akan segera usang karena informasinya yang sudah kadaluarsa. Dan aku pun pasti akan membeli terbitan yang terbaru untuk perjalanan di tahun-tahun berikutnya.

Pakaian

Pakaian yang dibawa tergantung musim dan daerah tujuan perjalanan. Tujuan kali ini masih di wilayah tropis dengan kondisi musim hujan. Karena itu tidak perlu bawa pakaian tebal. Aku memutuskan untuk bawa 3 lembar kaos, satu baju luar (jaket), satu celana pendek, “handuk” microfiber. Handuk microfiber ini mudah meresap, mudah kering, dan tipis sehingga tidak memakan tempat di ransel. Hanya saja sejauh ini aku tidak menemukan handuk microfiber yang dijual di Jakarta, jadi sebagai gantinya aku pakai dua buah kain microfiber ukuran kecil (kalau tidak mau disebut lap piring :P).

Hair dryer

Tiga lembar baju sebenarnya sudah sangat cukup untuk perjalanan lama sekalipun. Bukan berarti menggunakan baju itu terus-menerus, tapi dengan mencuci baju setiap hari. Untuk melakukan trik ini, hair dryer adalah barang penting untuk mengeringkan baju dengan cepat, selain untuk mengeringkan rambut juga. Jadi ketika check out tempat penginapan untuk melanjutkan perjalanan, semua baju sudah siap pakai kembali.

Karet gelang dan kantong plastik

Oke, ini masih eksperimen. Aku belum tahu sejauh apa dua benda ini akan bermanfaat nantinya. Tapi dua benda ini termasuk barang yang direkomendasikan oleh blog SnarkyNomad dalam perjalanan super ringan. Sejauh ini yang aku tahu manfaat karet gelang antara lain untuk menggulung baju dan merapikan kabel. Sedangkan kantong plastik untuk membungkus baju kotor.

Obat diare, plester dan vitamin C

Obat-obatan sebenarnya bisa dibeli di toko karena perjalanan ini bukan perjalanan ke pedalaman. Tapi daripada harus bersusah-susah jalan ke toko sambil menahan sakit, lebih baik sedia saja. Toh ukurannya tidak lebih besar dari handphone.

Buku catatan, kamera, pulpen, laptop

Buku catatan dan pulpen jadi kebutuhan pokok untuk mencatat jurnal perjalanan dan juga nomor atau alamat penting. Kamera untuk mengabadikan momen. Sedangkan laptop, sebetulnya tidak terlalu penting sih. Tapi berhubung profesiku erat dengan komputer, rasanya ada yang kurang kalau tidak bawa laptop. Hehehe.. Belakangan ini aku mengganti laptop dengan MacBook Air 11″. Selain karena alasan pekerjaan yang mengharuskan untuk memakai Mac OS X, juga karena ukurannya cocok untuk backpack. Kalau laptopnya 3 kg atau lebih, mungkin lebih baik ditinggal saja di rumah.

Botol minum kosong

Bisa kosong, bisa isi. Kalau pergi naik pesawat terbang, maka botol yang dibawa harus kosong. Baru diisikan kemudian setelah mendarat.

Uang tunai

Oke uang tunai ini wajib karena masih banyak tempat yang akan aku kunjungi yang tidak menerima pembayaran menggunakan kartu.

 

Sekian dulu, mari kita lihat apa yang terjadi setelah perjalanan berakhir!