A Jar of Minds

Collecting thoughts in a container

Hidup Sosial Tanpa Media Sosial

Aku termasuk sebagai pengguna media sosial di masa-masa awal. Kala itu media sosial masih sebatas memajang profil dan saling berkomentar mengenai si empunya profil. Sebut saja Friendster dan MySpace contohnya. Kehidupan masih terpisah dari dunia maya. Hubungan sosial jarak jauh pun terjalin melalui telepon, SMS, dan chatting. Kita saling “update”, bertukar kabar dan momen-momen yang terjadi di sekitar kita. Senang rasanya bisa berbagi cerita dan mengetahui bahwa ada yang peduli dengan kita dan sebaliknya. Begitu personal.

Namun tren media sosial berangsur-angsur telah berubah. Kini realitanya media sosial sudah lebih banyak menjadi media marketing. Sosialisasi yang dulu sifatnya lebih pribadi kini telah menjadi dangkal sedangkal basa basi. Tujuan semula media sosial yang “menghubungkan kita dengan teman dan keluarga” kini malah lebih banyak “menghubungkan kita dengan berita dan isu terkini”. Berita soal politik, berita soal video kucing imut, berita soal liburan orang lain ke luar negeri. Aku pun sudah merasakan ini sejak beberapa tahun terakhir. Karena itu aku memutuskan untuk berhenti menggunakan media sosial dan kembali ke metode lama dalam bersosialisasi: kopi darat dan berbincang via japri.

Hidup Sosial Tanpa Media Sosial

Blog ini mengawali seri blog “Hidup Sosial Tanpa Media Sosial”. Dalam seri ini aku akan menuliskan perjalanan aku untuk mengembalikan kehidupan sosial tanpa media sosial seperti sekarang ini, yaitu melalui metode yang benar-benar “menghubungkan kita dengan teman dan keluarga”.

Meski demikian, sebagai orang yang berkecimpung di dunia IT, aku tidak bisa begitu saja memutus ikatan dengan media sosial. Karena sebagian dari pekerjaan yang aku buat terintegrasi dengan media sosial. Ditambah dengan majunya perangkat mobile dan jaringan internet, semakin sulit untuk tidak menggenggam ponsel dan login ke media sosial.

Saat ini ada cukup banyak akun media sosial yang aku punya. Untungnya beberapa akun aku buat baru-baru ini setelah aku berniat untuk berhenti menggunakan media sosial. Jadi tidak ada postingan apapun di akun-akun tersebut, dan tidak ada daya tarik untuk memposting apapun. Aku memang sudah memulai proses “disengaging social media” sejak beberapa tahun silam. Namun masih banyak waktu yang terbuang karena membuka media sosial di waktu ini dan itu. Belum sepenuhnya terputus.

Tujuan berhenti menggunakan media sosial antara lain:

  • Mengembalikan waktu yang terbuang yang dapat digunakan untuk kegiatan lain.
  • Mengembalikan sosialisasi ke level yang lebih personal.
  • Menikmati momen-momen yang lebih nyata di dunia nyata.
  • Mendefinisikan ulang fungsi media sosial sebagai aplikasi, bukan bagian dari hidup.

Karena itu fokus usaha yang dilakukan adalah dengan berhenti membuka update stream yang menghabiskan banyak waktu. Untuk postingan yang lampau, aku juga berniat untuk menghapusnya sehubungan dengan penggunaan data untuk iklan target dan profiling. Dan yang tak kalah penting, yaitu membuka kembali jalur sosial yang lebih nyata.