A Jar of Minds

Collecting thoughts in a container

Memulai

May 21, 2013 • Bahasa Indonesia, My Life

Waktu si Cécép masih bayi, sang bunda sering menaruhnya di atas lantai. Lucunya dia merangkak mengikuti ke mana sang bunda pergi. Sambil tertawa riang Cécép menapakkan kedua tangannya serta lutut kakinya dengan gaya merangkak khas bayi yang menggemaskan.

Bulan-bulan berlalu. Si Cécép sudah lincah merangkak kian kemari. Namun aneh, sang bunda nampak tak puas, diangkatnya kedua tangan Cécép sehingga dia tak lagi bertumpu di lutut dan telapak tangannya, tetapi kini dia harus berdiri di atas kedua telapak kakinya saja.

Berjalan di atas kedua kaki adalah hal yang sulit. Cécép berdiri, melangkah tertatih-tatih. Jatuh. Cécép menangis. Keesokan harinya, sang bunda kembali memaksa Cécép untuk berdiri lagi, melangkah lagi, jatuh lagi.

Hingga masa itu berlalu.

Kini Cécép, berumur 25 tahun, berada di lapangan sebagai seorang atlet lari. Berjalan sudah bukan lagi hal yang rumit. Tanpa berpikir pun dia bisa berjalan bahkan berlari dengan mudahnya.

Apa yang sulit dalam melakukan segala sesuatu? Memulai. Ya, memulai. Memulai segala sesuatu adalah hal yang tersulit dalam hidup ini. Sebutlah hal yang sederhana, bagaimana kita memulai hari ini? Kita mulai dengan bangun tidur. Seringkali saat kita membuka mata, kita merasa teramat sangat sulit untuk bangkit. “Lima menit lagi deh..” Lima menit berlalu. “Satu menit lagi deh…” Tapi segera setelah kita bangkit, maka sehari itu dapat kita lalui dengan segar.

Apa yang sudah lama kita impikan namun belum juga terlaksana. “Oh, aku ingin jadi seorang penyanyi!” Melissa punya bakat menyanyi. Melissa mengerti teknik bernyanyi. Suara Melissa merdu. Semuanya sudah oke. Singkatnya, Melissa adalah seorang penyanyi. Bahkan dia punya lagu-lagu ciptaannya sendiri. Lalu apa lagi? “Aku belum merasa sebagai seorang penyanyi kalau belum merilis album.” Orang yang punya cita-cita, biasanya memiliki arti spesifik dan patokan atas pencapaian cita-cita tersebut. Misalnya sebagai penyanyi, bagi Melissa itu harus ditandai dengan merilis album. Tapi lain bagi Bobby, baginya, seorang penyanyi itu harus ditandai dengan tampil di atas panggung ditonton oleh 1000 orang dan masuk ke layar kaca.

Misalnya Melissa ingin merilis album untuk menandai pencapaian cita-cita tersebut. Bagaimana caranya? Tidak ada kenalan yang mengerti, karena lingkungan Melissa adalah lingkungan orang-orang teknik. Ke mana harus mencari informasi? Bagaimana memulainya? Singkatnya, Melissa butuh informasi.

Setelah empat bulan berlalu, akhirnya Melissa dapatkan keterangan bahwa dia perlu rekaman di studio, cari tim yang bisa mendukung dalam mengaransemen lagu dan bermusik. Cari label yang bersedia menerbitkan albumnya. Dan seterusnya. Semuanya sudah jelas. Tapi Melissa belum juga menghasilkan album. Mengapa? Karena memang dia belum melakukannya. Dia baru mengumpulkan informasi saja.

Rasanya sulit untuk mulai melakukannya. Ada perasaan gentar dan agak khawatir. Bagaimana kalau ditolak? Bagaimana kalau begini? Bagaimana kalau begitu?

Tapi Melissa lakukan juga. Setelah setahun lebih dia berjuang, akhirnya album perdananya rampung dan sudah terpajang di toko-toko CD. Menariknya, tidak lama setelahnya dia sudah menerbitkan kembali album keduanya, ketiganya, dan keempatna.

Kisah di atas hanya ilustrasi saja. Tapi bukankah itu sering terjadi pada kita? Ketika kita mulai melakukan sesuatu, rasanya sulit sekali dan butuh waktu lama. Tapi ketika permulaan itu berhasil dilalui, maka hal yang sama kita lakukan dengan mudah sekali, karena sudah terbiasa.

Apa yang menyebabkan kita sulit memulai? Dari kisah di atas, aku menyimpulkan tiga faktor:

  1. Malas untuk melakukan hal yang baru
  2. Kurang informasi
  3. Khawatir

Untuk bisa menyingkirkan faktor nomor 1 dan 3, kita perlu motivasi yang besar. Fokus pada apa yang ingin kita capai, dan betapa bernilainya hal tersebut, sehingga adalah baik untuk dimulai.

Tapi jika sulit juga memanasi diri agar termotivasi, adakah alternatif lainnya supaya kita bisa segera mulai? Carilah teman! Teman yang bisa ‘memaksa’ kita untuk ‘terjerumus’ ke dalam hal tersebut sehingga tanpa kita sadari, kita sudah memulai walaupun terpaksa.

Misalnya kita ingin berenang. Air di kolam sungguh dingin. Malas rasanya masuk ke kolam. Mencelupkan jempol kaki saja rasanya sudah dingin ke sekujur tubuh. Padahal kita sudah berpakaian renang lengkap dengan kacamata renang. Kita berdiri mematung di pinggir kolam, berpikir apakah sebaiknya berenang atau batal saja.

Lalu tanpa disadari, teman kita sudah berada di belakang dan mendorongn dengan kuat sehingga kita tercebur. Apa jadinya? “Dingin sekali!” Tapi kita pun tak ingin keluar, karena setelah basah, di luar pasti lebih dingin lagi rasanya. Jadi apa boleh buat, berenang saja. Dan kita pun menikmati rencana awal kita untuk berenang.

Sebenarnya apa pun bisa jadi pemegang kunci gerbang untuk memulai. Mungkin diri sendiri, mungkin teman, mungkin keadaan. Apapun itu, setelah kita masuk ke dalam hal yang baru, janganlah menyesali mengapa aku ada di sini? Tetapi mari jalani dengan tekun dan tak perlu khawatir apa yang akan kita hadapi. Jangan lupa juga untuk berserah dan memohonkan pada Yang Maha Kuasa agar menuntun perjalanan kita yang baru.